Tuntut Haknya, 8 Mahasiswa IKIP Malah Di Intimidasi Rektorat

 

NIASTODAY.CO | Gunungsitoli – Delapan mahasiswa Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Gunungsitoli yakni : Mearo Zega, Sinema Zebua, Joko Puryanto Mendrofa, Lestariaman Humendru, Yusuf Eli Gulo, Sueli Waruwu, Derman Jaya Laia dan Faduhu’õ Tafona’õ, Secara resmi di non aktifkan selama 6 bulan oleh petinggi rektorat melalui Surat Keputusan Nomor : 27/KPTS IKGS/2018 tertanggal 23 April 2018.

Dalam surat tersebut, Mahasiswa itu dituding tidak membuat situasi tidak nyaman karena sering menuntut melalui demonstrasi dan para mahasiswa itu belum mendapat izin dari pengurus kampus jika ingin menyampaikan aspirasi.

Para mahasiswa ini diketahui sebelumnya telah melakukan aksi unjuk rasa di kantor Yayasan dan kantor Rektorat kampus IKIP untuk menyampaikan aspirasi terkait legalitas jurusan yang belum terakreditasi dan fasilitas kampus yang dinilai jauh dari harapan.

Gerah karena tuntutan mereka selama berhari – hari tidak digubris, Para mahasiswa melalukan aksi represif dengan hanya menyegel ruangan kantor pimpinan rektorat serta pimpinan yayasan.

“Kami hanya menuntut hak kami sebagai mahasiswa. Namun sekarang inilah yang terjadi. kami malah dituduh supersif dan kami di Non aktifkan,” Ucap Derman Jaya Laia dan Sinema Zebua, kepada wartawan, di Kelurahan Pasar, Kota Gunungsitoli. Selasa (24/4/2018)

Sedangkan Pimpinan Rektorat IKIP Gunungsitoli, Drs Desman Telaumbanua, M.Pd, ketika dikonfirmasi, Selasa (24/4), membantah telah menon aktifkan melainkan hanya memberi skors selama satu semester (6 bulan).

Menurutnya bahwa sebelum menskors para mahasiswa itu, sebelumnya pihak rektorat IKIP Gunungsitoli sudah mengadakan rapat untuk meminta usul dan pendapat di tingkat Senat IKIP Gunungsitoli dan disimpulkan bahwa koordinator lapangan diberikan sanksi yakni skorsing selama satu semester.

“Mereka bisa aktif lagi kok setelah skors nya selesai sesuai waktu dalam surat keputusan itu,” Katanya

Hingga saat ini, Pihak Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) IKIP  Gunungsitoli (organisasi internal) tidak bersedia dikonfirmasi atas masalah ini.

Masalah ini tengah menjadi pembicaraan di jejaring sosial berbagai group Whatsapp (WA). Para netizen menyayangkan sikap otoriter rektorat dan ketidakmampuan Yayasan dalam menuntaskan aspirasi mahasiswa yang sudah dua tahun dituntut. Netizen juga mengkritik organisasi SMPT (organisasi internal mahasiswa) yang juga dinilai membiarkan rekannya sesama mahasiswa mendapat intimidasi. Selasa (24/4)

“ini sejarah di wilayah se Kepulauan Nias. Organisasi internal kampus sebagai wadah mahasiswa juga dinilai terkesan tutup mata dan membiarkan sesama rekan mahasiswa di intimidasi. Ada apa ya.?,” Ucap Mantan Aktivis dan Alumni GMNI, Krisman Telaumbanua, kepada wartawan.

(Red/Tim/Helpy)